fiksi
Pagi itu mendung sudah datang dengan sangat rajin. ah
aku harus berangkat lebih awal lagi nih. batinku. maklum saja tempat tinggalku
cukup jauh dengan tempat belajarku. dan aku harus dengan rela menempuhnya
dengan berjalan kaki. ayahku meninggal sejak aku kelas 2 sd. ibuku berjualan
gorengan di pasar sebelah rumah guna menyambung hidup dan membiayai aku dan 2
kakakku. kakakku yang pertama mbak ayu sudah menikah dan sekarang hidup dengan
suaminya. suaminya mas yoga seorang guru sd honorer. yang tahu sendiri gaji
seorang guru yang tak perlu kutulis atau ku goreskan dalam pena ini. kakak ke 2
ku mbak bela. juga sudah menikah dan juga sudah hidup dengan suaminya mas amin.
anak terakhir sendiri dengan merengek rengek pada ibu agar bisa melangkah lebih
maju dari kedua kakakku untuk dapat menempuh pendidikan 12 tahun. aku
mengabaikan pesan presiden yang mewajibkan sekolah 9 tahun. tapi aku minta
lebih.alhasil ibuku mengizinkan dengan konsekwensi hari ini yang ku hadapi.
hujan yang tiada mau pergi seakan ingin meruntuhkan sisa semangat yang setiap
hari harus ku pompa.jarak 8 km yang harus ku tempuh dengan jalan kaki dan
kondisi jalan yang sungguh ingin ku perlihatkan pada bapak presiden yang
terhormat. agar segera ada angin segar dari ibukota untuk desa ku.ci, cepat gih
makannya. ini sudah siang. ibu hari ini tidak ke pasar. dari tadi malam hujan
terus. uang sakumu kemarin masih ada kan? kemarin gorengannya masih sisa
banyak.
aku menelan ludah. mendengar celotehan ibu. ah andai
saja ayah masih ada. batinku.
cici! cepat berangkat. teriak ibu dari arah dapur. aku tersentak. spontan
aku menghabiskan minumku lalu berlari ke arah ibuku.cici pamit bu.
assalamualiaikum. kataku mencium tangan ibuku. bau bawang batinku.nah disinilah
aku sekarang. mengenakan jas hujan peninggalan ayah. aku bertelanjang kaki.
sepatuku ku masukkan ke tas. aku tak rela air hujan membelai sepatu yang baru
dapat 3 bulan ku beli dengan menabung 6 bulan. aku berjalan menyusuri jalan
yang becek. maklum jalannya belum di aspal. ku percepat langkahku karena hujan
semakin deras. aku tidak mau berteduh. karena justru akan semakin menambah
waktu keterlambatanku.
ci! cici! tunggu.....
lila. teman sekelasku yang berbeda desa dariku. berlari menghampiriku.
tumben la kamu jalan kaki?
tanyaku ketika ia berhasil menjajariku.
bannya bocor. sungut lila..
kuperhatikan ia. sepatu lila masih dipakai. dan ia tidak peduli jika
sepatunya mencium lumpur. dan jas hujannya bagus. bermotif bunga bunga warna
pink. lila memang tergolong agak mujur. bapaknya seorang mantri desa. dan
ibunya mempunyai toko kelontong yang lumayan besar di pasar tempat ibuku
berjualan.

Komentar
Posting Komentar